Selasa, 26 Desember 2017
FIQIH, KELAS 4 MATERI MAKANAN DN MINUMAN HALAL DAN HARAM
Tahukah kalian?, bahwa Allah telah memberikan kita nikmat yang
begitu banyak, salah satu di antaranya adalah makanan yang kita butuhkan dalam
kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, kita harus selalu bersyukur kepada-Nya,
dengan cara memilih makanan yang diperbolehkan oleh Allah untuk dikonsumsi
sehari-hari, seperti makanan yang dihalalkan oleh Allah.
Tahukah kalian?, bahwa Allah menciptakan segala yang ada di muka
bumi ini untuk memenuhi kebutuhan manusia. Oleh karena itu, kita sebagai manusia
harus dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Untuk keperluan hidup, manusia tidak akan pernah lepas dari
makanan. Hal tersebut sangat penting dan bermanfaat untuk pembentukan jasmani
yang kuat.
dan
sehat. Manusia adalah mahluk yang diciptakan oleh Allah dan Allah pula yang
memenuhi segala kebutuhan hidup manusia. Oleh sebab itu, kita harus mencintai
Allah dengan sepenuh hati.
A.
Makanan Halal
1.
Arti makanan halal
Agama Islam telah
memberikan aturan-aturan yang sangat jelas di dalamn al-Qur’an dan Hadis
tentang makanan-makanan yang halal. Makanan yang halal adalah makanan yang
diizinkan oleh Allah Swt. untuk dimakan.
2.
Macam-macam makanan yang halal
Untuk mengetahui
halalnya makanan yang kita konsumsi maka dapat ditinjau dari dua macam yaitu:
a. Makanan halal
menurut dzatnya
Makanan ditinjau
dari jenis dzatnya akan layak dikonsumsi atau tidaknya kita bisa mengetahui
dari ciri-ciri makanan tersebut, antara lain :
1) Dijelaskan di
dalam al-Qur`an dan hadis
2) Bermanfaat bagi
pertumbuhan kesehatan manusia
3) Tidak merusak
badan, akal maupun pikiran
4) Tidak kotor,
najis dan tidak menjijikkan
Dalam
al-Qur’an disebutkan bahwa kita disuruh memakan makanan yang halal dan baik.
Sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an Surat al-Baqarah (2):168.
Artinya
: Wahai manusia! Makanlah dari (makanan)
yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan jangan kamu megikuti
langkah-langkah setan. Sungguh setan itu
musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah [2]:168)
Makanan
halal juga bisa mendorong kita untuk lebih bisa mensyukuri atas nikmat Allah
dan untuk meningkatkan keimanan kepada-Nya. Sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an:
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman! makanlah dari rizki yang baik yang Kami berikan
kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya memyembah kepadanya. (QS. Al-Baqarah
[2]:172)
b.
Makanan halal menurut cara memperolehnya
Syarat
makanan yang halal tidak hanya ditinjau dari jenis dzatnya saja , tetapi juga
dilihat cara memperolehnya. Agama Islam mensyaratkan makanan yang halal dilihat
dari cara memperolehnya yaitu:
1)
Diperoleh tidak dengan cara yang batil atau tidak sah, sebagaimana firman Allah
Swt. dalam QS. Al-Baqarah (2):188:
Artinya
: Dan janganlah sebahagian kamu memakan
harta sebahagian yang lain di antara kamudengan jalan yang bathil .” (QS.
Al-Baqarah [2]:188)
2)
Tidak diperoleh dengan cara riba. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah
(2):276 :
Artinya
: Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah… (QS. Al-Baqarah [2]:276)
Jadi,
jika cara mendapatkan makanan dari hasil kerja yang halal maka akan menghasilkan
yang halal pula, dan jika mencarinya dengan jalan tidak halal maka akan
menghasilkan yang tidak halal pula.
Adapun
makanan yang dihalalkan menurut agama Islam dapat digolongkan sebagai berikut:
a.
Semua rizki yang diberikan oleh Allah berupa makanan yang baik dan halal (
padi, jagung, sagu, kedelai, sayuran, buah-buahan, dll.)
b.
Semua makanan yang berasal dari laut (air)
c.
Semua binatang ternak (ayam, itik, kambing sapi, kerbau, unta dll), kecuali babi
dan anjing
d.
Hasil buruan yang ditangkap oleh binatang yang telah dididik untuk berburu.
3.
Membiasakan mengonsumsi makanan yang halal
Allah
Swt. dan Rasul-Nya memerintahkan umat manusia untuk membiasakan mengonsumsi
makanan yang halal. Dengan mengonsumsi makan yang halal akan memberikan manfaat
bagi tubuh manusia. Manfaatnya antara lain:
a.
Terhindar dari murka Allah karena menjauhi larangaNya
b.
Tubuh kita akan selalu sehat karena yang dimakan adalah sesuatu yang baik dan
enak.
c.
Akan menghasilkan hati dan fikiran yang bersih karena mendapat curahan kasih
sayang dari Allah Swt.
d.
Akan diberi rizki yang halal dan dilipatgandakan oleh Allah karena selalu
mentaati
Allah sebagai wujud rasa syukur.
e.
Menunjukkan pada umat lain bahwa Islam adalah agama yang baik dan
hanya
mengajarkan kebaikan.
4.
Hikmah mengonsumsi makanan yang halal
Kenapa
Allah Swt. dan Nabi Muhammad Saw. menyeru umat Islam agar memilih makanan yang
halal untuk dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari?. Pastilah ada hikmah dan
kelebihan yang dapat membantu manusia untuk menjalani kehidupannya sebagai
hamba Allah Swt. dengan cara yang lebih baik, antara lain:
a.
Mendapat kesehatan hati dan Jasmani (badan)
Mengonsumsi
makanan halal akan menjadikan Qalbu/hati sehat, yang
berpengaruh
pada seluruh bagian-bagian tubuh menjadi sehat juga.
Sabda
Rasulullah Saw:
Artinya:
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia
baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh;
ketahuilah bahwa dia adalah hati.” (HR. Bukhari Muslim)
b.
Supaya doa dikabulkan oleh Allah Swt. Sabda Rasulullah Saw.:
Artinya:
“Kemudian Seorang lelaki bermusair sehingga rambutnya
menjadi kusut dan mukanya dipenuhi debu. Dia menadah tangannya dan berdoa
kepada Allah sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan
mulutnya disuap dengan sesuatu yang haram bagaimana akan diperkenankan permohonannya.”
(HR. Muslim)
c.
Dijauhkan dari siksa api neraka
Sebagaimana
dijelaskan dalam sebuah hadis yang berbunyi:
Artinya:
“Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka pantas
untuknya.” (HR. Ibnu Hibban)
Hal
ini berarti orang yang makan makanan halal maka neraka tidak pantas
untuknya
di hari akhir.
d.
Makanan yang halal menumbuhkan perbuatan yang baik
Rizki
dan makanan yang halal adalah bekal dan sekaligus pengobar semangat untuk
beramal shaleh. Buktinya adalah firman Allah Ta’ala,
Artinya:
“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thoyyib (yang baik), dan kerjakanlah
amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.
Al Mu’minun: 51)
Oleh
karena itu, menjadi kewajiban dan tanggung jawab bagi umat Islam pada hari ini
untuk lebih berhati-hati dalam memilih dan mengonsumsi makanan yang halal.
Hendaklah
kita sentiasa memastikan setiap makanan yang diperoleh dan dimakan itu adalah
halal menurut syariat Allah Swt. Sesungguhnya perintah Allah swt. adalah untuk
tujuan dan kebaikan manusia bersama.
FIQIH, KELAS 2 MATERI SHOLAT JUMAT
A Pengertian Sholat Jum’at
Sholat JUM’AT adalah
sholat dua rakaat yang dikerjakan pada hari jum’at. Sholat jum’at dikerjakan secara berjama’ah.
Shalat Jumat merupakan perintah Allah Swt yang harus
dilakukan oleh orang muslim laki-laki yang telah memenuhi syarat. Sholat jum’at
dikerjakan setelah dua khutbah.
B. Hokum
Melaksanakan Sholat Jum’at
Hokum melaksanakan sholat Jum’at adalah fardhu ‘Ain atau wajib.
Sholat jum’at wajib bagi orang lakimuslim yang sudah baligh. Baligh artinya
orang yang sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk.
Selain baligh, juga harus berakal,
merdeka dan mukim. Anak-anak yang belum baligh dan wanita tidak wajib
melaksanakan sholat jum’at.
C. Syarat Wajib Sholat Jum’at
Syarat wajib sholat jum’at adalah:
1. Islam.
2. Laki – laki.
3. Baligh.
4. Berakal.
5. Merdeka.
6. Tidak sedang berpergian.
7. Tidak ada penghalang yang membahayakan.
D. Syarat Sah Sholat Jum’at
1.
Sholat jum’at dilaksanakan secara berjama’ah tidak
kurang dari 40 orang.
1.
sholat
juma’at dilaksanakan pada waktu dhuhur sebanyak 2 rakaat.
Sholat jum’at dilakukan setelah 2 khutbah yang
memenuhi syarat dan rukunnya.
E. Syarat Khutbah Jum’at
1.
orang
yang berkhutbah harus laki-laki muslim.
2.
orang
yang berkhutbah dapat mendengar dengan baik.
3.
Orang
yang khutbah harus suci dari hadast besar dan hadats kecil.
4.
Badan,
pakaian, dan tempat khatib harus suci dari najis.
5.
Khatib
harus menutup aurat.
6.
Berkhutbah
dalam satu bangunan yang digunakan untk sholat jum’at.
7.
Ketika
berkhutbah dianjurkan berdiri bagi yang mampu.
8.
Khotib
dudukdi antara dua khutbah dan hanya istirahat sebentar.
9.
Khutbah
dilakukan berturut-turut antara khutbah pertama dan khutbah kedua.
10.
Khutbah
dilakukan berturut-turut antara khutbah kedua dengan sholat jum’at.
11.
Khatib
berkhutbah dengan suara lantang agar terdengar oleh seluruh jama’ah.
12.
Khutbah
dilakukan pada waktu dhuhur.
13.
Khatib
membaca rukun-rukun khutbah dengan bahasa arab.
F. Rukun Khutbah Jum’at
1.
Memberi
puji-pujian kepada Allah pada setiap permulaan 2 khutbah Jum’at.
sekurang-kurang nya khatib membaca hamdalah.
2.
Mengucapkan
sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
3.
Khatib
membacakan wasiat takwa pada setiap khutbah.
4.
Membaca
ayat al qur’an disalah satu kedua khutbah.
5.
Berdoa
memohonkan ampunan kepada Allah bagi kaum muslimin dan muslimat.
G. Amalan Sunnah Sebelum Sholat Jum’at
1.
Mandi
2.
Memotong
kuku
3.
Memakai
pakaian yang baik dan bersih diutamakan berwarna putih.
4.
Memakai
wangi-wangian
5.
Menyegerakan
datang ke masjid sebelum khotib menaiki mimbar.
6.
Berdoa
ketika keluar rumah.
7.
Mendahulukan
kaki kanan ketika masuk masjid dan berdoa.
8.
Melakukan
sholat tahiyyatul masjid.
9.
Mendengarkan
khotib membacakan khutbah.
10. Berniat iktikaf di masjid sambil membaca al qur’an, dzikir,
bersholawat samapai khitib menaiki mimbar.
H.
Halangan Sholat Jum’at
Sholat jumat hukumnya
wajib. Akan tetapi bila berhalangan kita boleh tidak melaksanakan sholat jum’at
dan menggantinya dengan sholat dhuhur. Apabila kita mengalami hal-hal berikut:
1.
Sakit.
2.
Hujan
lebat.
3.
Bancana
alam.
4.
Ketika
perjalanan jauh.
5.
Kondisi
tidak aman untuk melaksanakan sholat jum’at.
I. Tata Cara Sholat Jum’at
Tata cara sholat jum’at adalah sebagai berikut:
1.
Mempersiapkan
diri, disunahkan mandi.
2.
Memakai
pakaian yang suci dan memakai wangi-wangian.
3.
Sesampai
di masjid, tidak duduk dulu. Tetapi melaksanakan sholat sunnah tahiyyatul
masjid.
4.
Membaca
dzikir, sholawat, atau membaca al-qur’an sambil menunggu masuknya waktu dzuhur
dan khatib naik ke mimbar.
5.
Sholat
jum’at dimulai dengan dikumandangkanya adzan.
Bagi yang terbiasa melaksanakan sholat jum’at dengan dua kali
adzan, tata caranya sebagai berikut:
a.
Muadzin
mengumandangkan adzan pertama tanda waktu dzuhur telah masuk.
b.
Melaksanakan
sholat sunnah jum’at.
c.
Khotib
naik mimbar dan mengucapkan salam.
d.
Muazin
mengumandangkan adzan ke dua.
6.
Khotib
menyampaikan dua khutbah diselingi duduk diantara dua khutbah. Ketika khutbah
berlangsung jama’ah mendengarkan dan menyimakisi khotbah dengan khidmat. Jamaah
tidak boleh berbicara, bercanda ataupun berbisik karena dapat merusak pahala
jum’at.
7.
Setelah
khutbah mu’azin mu’adzin mengumandangkan iqomah dan khotib menempati tempat
imam.
8.
Imam
mengingatkan kepada jama’ah untuk merapikan saf.
9.
Jama’ah
merapikan saf dan mempersiapkan sholat jum’at.
10. Imam memimpin sholat jum’at dengan khusyuk hingga selesai.
11. Setelah sholat dianjurkan tidak langsung bubar tetapi memperbanyak
dzikir kepada Allah.
12. Setelah berdzikir disunnahkan sholat ba’diyah jum’at.
13. Orang yang memiliki keluangan waktu dapat bersilaturahmi dengan
jama’ah yang lain di masjid.
TEMATIK, Kelas 2 aturan di rumah
KERJAKAN SOAL BERIKUT:
NO
|
NAMA BENDA
|
SUMBER ENERGI YANG DIGUNAKAN
|
1.
|
Kompor
|
|
2.
|
Mobil
|
|
3.
|
Televise
|
|
4.
|
Setrika
|
|
5.
|
Jam dinding
|
TEMATIK, KELAS 4 Aturan di Sekolah
Aturan di sekolah sangat banyak contohnya seperti harus datang tepat waktu, selalu mengerjakan tugas dari bapak/ibu guru, manaati peraturan yang di sekolah. kita sebagai warga sekolah harus selalu menaati aturan yang ada di sekolah. dan jika kita melanggar kita harus bertanggung jawab dan harus meminta maaf kepada guru kita.
AIDAH AKHLAK, Kelas 4 Materi Tahlil
A kalimat tahlil
Sebelum
kita membahas kalimat tahlil kita harus tahu dahulu apa itu kalimat tayyibah.
Kalimat tayyibah yaitu kalimat untuk mengagungkan allah. Dan barang siapa yang
suka membaca kalimat tayyibah dalam waktu senang ataupun sedih maka akan di sayang
allah. Kalimat tayyibah itu antara lain tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir.
Nah, kita sekarang akan mempelajari tentang salah satu kalimat tayyibah yaitu
kalimat tahlil.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya seutama-utama dzikir adalah la
ilaha illallah (kalimat tahlil). Ia adalah kalimat tauhid dan kalimat
kemurnian, keesaan Allah. Ia juga asma Allah yang teragung. (HR. Imam At-turmudzi,
an- Nasa’I, ibnu majjah, dan Al-Hakim).
Dari pengertian tersebut sudah jelas bahwa kalimat tahli adalah
kalimat yang menegaskan bahwa Allah SWT itu Esa. Dan Allah SWT adalah
satu-satunya hak yg berhak untuk disembah.
B. Waktu membaca kalimat tayyibah
waktu membaca kalimat tayyibah antara lain:
- Ketika membaca syahadat
- Azan dan iqamah
- Shalat yaitu ketika tasyahud
- Membaca wirid atau dzikir ketika sholat 5 waktu
C. Membiasakan diri membaca kalimat
tahlil
Orang
yang membiasakan diri membaca kalimah tahlil berarti ia meyakini dan beriman
bahwa tidak ada tuhan selain Allah di alam semesta ini. Disamping itu membaca
tahlil hendaknya kita ikuti dengan perbuatan yang menunjukkan iman dan takwa
kita kepada Allah. Misalnya rajin bersedekah, sholat 5 waktu dll. Orang yang
membiasakan berdzikirakan terhindar dari sifat buruk dan tercela.
AQIDAH akhlak, Kelas 2 materi Akhlak Terpuji
A PATUH
DAN TAAT TERHADAP KEDUA ORANG TUA
Apakah kalian
termasuk anak yang berbakti kepada kedua orang tua?
Allah swt. memerintahkan pada manusia untuk selalu patuh
dan taat kepada kedua orang tua. Kenapa kita harus patuh dan taat terhadap
kedua orang tua? Ibu kita telah bersusah
payah mengandung kita selama lebih kurang sembilan bulan. Ketika melahirkan, ia
merasakan sakit yang sangat. Pada saat kita masih bayi ia tidak dapat tidur
dengan nyenyak karena ia kadang terbangun ketika kita menangis di waktu malam.
Ayah bekerja mencari rezeki untuk kita siang dan malam. Kedua orang tua kita
bekerja keras demi kebahagiaan anak-anaknya. Sebagai balas budi kita terhadap
kedua orang tua, maka kita harus patuh dan taat kepada mereka berdua.
Bagaimana
cara kita berbuat baik kepada mereka berdua? Di antara cara
berbuat
baik kepada orang tua adalah:
- Mendoakannya ketika selesai sholat
- Mematuhi mereka
- Menyayangi mereka
- Berkata sopan dan santun
- Berterima kasih kepada mereka karena telahmembesarkan kita dengan penuh kasih sayang
- Berbicara lembut dan tidak kasar
- Bersikap jujur kepada mereka
B. MENELADANI
SIKAP TERPUJI NABI ISMAIL AS.
a. Keluarga Nabi Ismail As.
Nabi Ismail As. adalah
putra Nabi Ibrahim As. Sejak kecil Nabi Ismail
As. ditinggalkan oleh
ayahnya Nabi Ibrahim As yang harus berpisah karena melaksanakan perintah Allah
Swt. Dia hidup bersama ibunya di tempat yang tandus, tidak ada pepohonan, tidak
ada makanan dan minuman. Kebingungan bertambah manakala terdengar tangisan
Ismail yang kehausan. Siti Hajar berlari menuju bukit Safa sampai tiba di suatu
tempat yang bernama Marwah. Di sana pun tidak ada air. Kejadian itu sampai
berulang-ulang sebanyak tujuh kali. Siti Hajar berlari antara bukit Safa dan
Marwah. Berkat kesabaran dan do’a Ibunya yang bernama Siti Hajar, akhirnya
Allah Swt mengabulkan permohonan Siti Hajar. Sehingga atas kekuasaan Allah Swt
melalui Malaikat Jibril, keluarlah mata air zam-zam yang diberi nama telaga
zam-zam.
b. Pengorbanan Nabi Ismail As.
Kerinduan
Nabi Ibrahim As. kepada anak kesayangannya sepertinya
akan
terobati karena Nabi Ibrahim As telah menyelesaikan tugasnya dan akan pulang
untuk kembali bersama anak dan istrinya. Setelah bertahun tahun berpisah
akhirnya, Nabi Ibrahim As bisa bertemu dengan keluarganya di sebuah tempat yang
sekarang diberi nama Padang Arafah. Dengan senang hati mereka bertemu setelah
sekian lama berpisah. Setelah melepaskan lelah mereka melakukan perjalanan
pulang menuju ke Makkah. Di tengah perjalanan, mereka beristirahat dan tidur
sejenak di Muzdalifah. Di saat tidur itulah Nabi Ibrahim As bermimpi bahwa
Allah Swt memerintahkan agar beliau menyembelih anak kesayangannya yang baru
bertemu dengannya. Kemudian berita itu disampaikan kepada Nabi Ismail As: “Hai
anakku, aku bermimpi
dalam tidurku diperintahkan
oleh Allah Swt untuk menyembelihmu”. Sebagai anak yang
berbakti kepada orang tua maupun kepada Tuhannya dengan tanpa ragu-ragu ia
menjawab: “Wahai ayahku laksanakan apa yang Allah Swt perintahkan,
insya Allah aku termasuk orang yang tabah menjalaninya”. Mendengar jawaban
tersebut Nabi Ibrahim As. langsung memeluk Nabi Ismail As karena merasa terharu
mempunyai anak yang taat kepada Allah Swt dan patuh kepada orang tuanya. Suatu
cobaan yang sangat berat bagi Nabi Ibrahim As sebagai seorang ayah maupun Nabi
Ismail As sebagai seorang anak. Ketika Nabi Ibrahim As akan memulai menyembelih
Ismail, Allah Swt
mengutus Malaikat jibril
untuk mengganti Ismail dengan domba yang gemuk. Allah Swt berfirman dalam
al-Qur’an surah As-Saffat ayat 107:
وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ
Artinya:
“Dan Kami tebus anak itu
dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat [37]:107).
Sesudah nyata kesabaran dan
ketaatan Ibrahim As dan Ismail As. Maka Allah Swt melarang menyembelih Ismail
dan untuk meneruskan korban, Allah Swt menggantinya dengan seekor sembelihan
(kambing). Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya kurban yang dilakukan
pada hari raya haji.
Dari peristiwa inilah asal
mula umat Islam seluruh dunia melaksanakan
kurban pada Hari Raya Idul
Adha. Itulah keteladanan Nabi Ismail As dalam berbakti terhadap orang tuanya.
Nah, apakah kalian juga termasuk anak yang patuh dan taat kepada kedua orang
tua kalian?
Langganan:
Komentar (Atom)